PWI Riau Soroti Maraknya Oknum Wartawan, Profesionalisme dan Etika Pers Jadi Tantangan
- Eka
- Selasa, 15 September 2026 - 10:57 WIB
PEKANBARU,RZ – Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Riau menyoroti maraknya oknum yang mengatasnamakan wartawan namun tidak menjalankan tugas jurnalistik sesuai profesionalisme dan etika pers.
Hal itu disampaikan Ketua PWI Riau, Raja Isyam Azwar, dalam diskusi bertema “Tantangan dan Masa Depan Pers Riau” sekaligus pengumuman pemenang Lomba Karya Tulis Jurnalistik (LKTJ) Ali Kelana 2026 di Sekretariat PWI Riau Jalan Arifin Ahmad Pekanbaru, Selasa (15/9/2026).
Kegiatan tersebut dihadiri 50 pemimpin redaksi media di Riau. Turut hadir Kepala Dinas Komunikasi, Informatika dan Statistik (Diskominfotik) Riau Supriyadi, sejumlah mitra kerja PWI serta perwakilan RRI.
Raja Isyam Azwar mengatakan, kegiatan pengumuman pemenang LKTJ Ali Kelana 2026 biasanya dilaksanakan melalui seremoni penyerahan hadiah. Namun, PWI Riau memilih mengemasnya sekaligus dengan diskusi untuk membahas kondisi dan tantangan pers di Riau.
"Terima kasih kepada sekitar 50 pemimpin redaksi yang hadir dalam rangka pengumuman Ali Kelana dan diskusi. Penyerahan biasanya dengan acara seremonial. Tapi karena efisiensi, kita tetap mengadakan penyerahan hadiah sekaligus diskusi," ujar Raja Isyam.
Menurutnya, PWI bersama organisasi wartawan dan organisasi lainnya terus berupaya mendorong agar profesionalisme dan etika pers tetap berjalan di tengah masyarakat.
Ia menyebut persoalan etika menjadi salah satu tantangan serius yang dihadapi dunia pers saat ini. Terlebih, pertumbuhan media online di Indonesia cukup pesat.
"Media online di Riau aja ada sekitar 5.600 sekarang. Banyak masyarakat yang mengeluhkan profesional dan etika wartawan di lapangan," katanya.
Raja Isyam menilai masih terdapat oknum yang menjalankan praktik jurnalistik secara tidak bertanggung jawab. Jika sebelumnya dikenal dengan istilah wartawan bodrek, kini masyarakat kerap menyebutnya sebagai wartawan abal-abal.
Menurut dia, oknum tersebut bahkan mendatangi masyarakat dengan cara yang bertentangan dengan etika jurnalistik, mulai dari melakukan pemerasan, menggertak hingga tindakan intimidatif.
"Oknum itu memeras, menggertak, bahkan melakukan tindakan intimidatif. Inilah tantangan kita hari ini," tegasnya.
Sementara itu, Kepala Diskominfotik Riau Supriyadi mengatakan perkembangan media di Riau terus mengalami pertumbuhan. Kondisi tersebut, menurutnya, perlu diiringi dengan keberadaan organisasi yang dapat menjadi tempat bernaung sekaligus ruang untuk berdiskusi bagi insan pers.
"Media di Riau terus bertumbuh. Harus ada organisasi bernaung, paling tidak untuk berdiskusi," kata Supriyadi.
Ia juga menyinggung fenomena wartawan bodrek maupun wartawan abal-abal yang masih menjadi perhatian masyarakat. Menurutnya, insan pers perlu tetap menjaga profesionalisme dan kewaspadaan dalam menjalankan tugas.
Supriyadi mengingatkan agar wartawan tidak larut dalam kondisi yang berkembang di tengah masyarakat, tetapi tetap memegang prinsip dan nilai-nilai yang menjadi landasan profesinya.
"Akan datang suatu zaman, yang tidak edan tidak kebagian. Kita harus tetap eling dan waspada. Ingat, Yang Maha Kuasa selalu memperhatikan kita," ujarnya.
Dalam diskusi tersebut, PWI Riau juga menghadirkan dua narasumber, yakni Erwin, Pemimpin Redaksi Tribun, dan Suyanto. Keduanya membahas tantangan serta masa depan pers di Riau, termasuk perkembangan media, profesionalisme wartawan, dan pentingnya penerapan etika jurnalistik di tengah perubahan ekosistem media.
Selain diskusi, kegiatan juga dirangkai dengan pengumuman serta penyerahan hadiah kepada para pemenang LKTJ Ali Kelana 2026. PWI Riau berharap kegiatan tersebut dapat menjadi ruang evaluasi sekaligus memperkuat komitmen insan pers dalam menjaga kualitas pemberitaan dan kepercayaan masyarakat.***
TAGS:




