Presiden Prabowo Perintahkan Bor Air di 300 Hotspot
- Eka
- Selasa, 25 Agustus 2026 - 08:10 WIB
PEKANBARU, RZ – Presiden Prabowo Subianto meminta penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Riau dilakukan lebih cepat, bahkan sebelum titik panas berkembang menjadi kebakaran.
Instruksi tersebut disampaikan Prabowo saat memimpin rapat terbatas penanganan karhutla Riau, Senin (24/8/2026). Ia meminta setiap hotspot yang terdeteksi langsung ditindaklanjuti oleh tim di lapangan.
Salah satu langkah yang ditekankan adalah menyediakan sumber air di sekitar lokasi hotspot melalui pengeboran. Upaya ini dinilai penting agar ketika titik panas mulai berkembang, petugas sudah memiliki sumber air untuk melakukan penanganan.
“Jangan nunggu jadi titik api. Segera saja ambil tindakan dini,” ujar Prabowo.
Ia bahkan meminta pengeboran dilakukan di ratusan lokasi yang terdeteksi sebagai titik panas.
“Segera aja bor air di 300 titik panas itu. Langsung ke situ bikin bor air, begitu ada hotspot, langsung bikin bor air, jangan sampai jadi titik api,” tegasnya.
Instruksi tersebut diberikan setelah BPBD Riau melaporkan sebanyak 306 hotspot terdeteksi di wilayah Riau pada 23 Agustus 2026. Dari jumlah tersebut, tujuh titik telah terkonfirmasi menjadi kebakaran yang tersebar di Pelalawan, Indragiri Hilir, Indragiri Hulu dan Kampar.
Kondisi paling luas berada di Kabupaten Pelalawan, khususnya kawasan Kerumutan, dengan luasan terbakar sekitar 700 hektare. Sementara di Rimbo Panjang, Kabupaten Kampar, sekitar 10 hektare lahan masih terbakar.
Secara keseluruhan, luas lahan yang terbakar di Riau sejak Januari hingga Agustus 2026 mencapai 16.277,5 hektare. Dalam periode yang sama, tercatat 10.514 hotspot, dengan 521 di antaranya terkonfirmasi menjadi titik kebakaran.
Sebagian besar kebakaran telah berhasil ditangani. Namun, masih terdapat tujuh titik api di empat kabupaten dengan total luasan sekitar 900 hektare yang membutuhkan penanganan.
BPBD Riau menyebut peningkatan karhutla tahun ini turut dipengaruhi fenomena El Nino yang cukup kuat. Kondisi tersebut membuat sejumlah wilayah lebih kering dan meningkatkan risiko kebakaran.
Karena itu, Prabowo menekankan agar strategi penanganan tidak lagi hanya mengandalkan pemadaman setelah api muncul. Setiap hotspot harus menjadi sinyal untuk segera mengerahkan personel dan menyiapkan sumber air di lokasi.
Selain tindakan teknis di lapangan, Prabowo juga meminta aparat memperkuat pencegahan terhadap pembakaran lahan secara sengaja. Upaya tersebut dinilai penting untuk menekan munculnya sumber kebakaran sejak dari tingkat masyarakat.
Dengan pola penanganan lebih dini, pemerintah diharapkan dapat mencegah titik panas berkembang menjadi kebakaran besar sekaligus menekan luas lahan yang terdampak karhutla di Riau.***
TAGS:



